![]() |
Oleh: Adi Purnomo
Lensajatim.id, Opini-Sudah menjadi mafhum anak-anak muda di era ini beranjak melek dan tumbuh bergerak berkesadaran ekonomi. Kesimpulan penulis berdasarkan pengamatan, diskursus dan hasil bincang-bincang di warkop-warkop rakyat serta penulis sempatkan pula survai cek fakta dilapangan menegasikan kecendrungan anak-anak bangsa era ini lebih menyukai sesuatu yang pasti dari pada sekedar beretorika dan berteori.
Hal itu bisa dilihat dengan makin kecilnya jumlah anak-anak muda di pedesaan, termasuk kaum terdidik lulusan perguruan tinggi. Contoh sederhana, dari sekian banyak anak-anak muda yang ada di sekitaran kampung di mana penulis tinggal, jumlah anak pemudanya bisa di hitung dengan jari. Anak-anak muda usia produktif bisa dipastikan mayoritas merantau keluar kota. Entah ini sebuah potensi atau sebuah ancaman karena pastinya lahan-lahan produktif pertanian dalam jangka panjang akan jadi lahan kering tak bertuah. Entah ini sebuah trouble karena gagalnya dunia pendidikan belum mampu mencetak anak-anak muda menjadi wirausahawan handal, guna mengembangkan potensi diri dan lingkungan menjadi sebuah kekuatan besar untuk menghidupi diri, keluarga dan bangsanya. Entah karena salah dalam membangun mindset bahwa lulusan dari pendidikan tinggi para sarjana harus jadi pejabat berdasi. Ataukah karena budaya salah kaprah dilingkungan sosial bahwa para pemuda-sarjana itu wajib berdasi dan haram hukumnya (dalam mindset sosial misalnya) jadi petani, peternak, pengusaha dllnya. Tapi pastinya para percari cuan di kota-kota besar sangat berdampak besar pula bagi perekonomian keluarga termasuk perekonomian desanya. Soal makin tergerusnya anak-anak muda desa karena mengalami migrasi besar ke kota-kota besar itu hal lain, bagaimanakah kelanjutan nasib warga kampung dan warga desa saat ditinggal para anak-anak muda usia produktif.
itu beberapa diskursus yang sepintas menarik direnungkan, didiskusikan dan dicarikan jalan terbaik berupa langka-langka kongkrit oleh semua steake holder.
Tulisan ini tidak bermaksud melakukan kritik sosial tapi lebih pada bagaimana tumbuh subur dan tumbuh kembangnya kesadaran anak-anak muda termasuk para pemuda gerakan pemuda ansor berkesadaran riil, berkesadaran realistis atau penulis lebih suka mengistilahkan dengan berkesadaran ekonomi.
Berkesadaran ekonomi yang dimaksudkan adalah agar bisa mengembangkan potensi lingkungannya sehingga para pemuda ansor bisa tetap menjadi benteng bagi keluarganya, bagi warga dan tetap bisa jadi benteng negara bangsanya serta agama.
Dari beberapa diskursus di atas, setidak-tidaknya ada beberapa hal yang bisa dilakukan.
Pertama, bahwa gerakan berkesadaran ekonomi ini perlu menjadi doktrin-idiologisasi (maaf,bukan idiologi seperti umumnya para insan elit mengartikulasikan) bagi kade-kader ansor. Dokrtin yang penulis maksudkan adalah bahwa gerakan berkesadaran ekonomi perlu terus dengan konsisten digaungkan dalam setiap momentum. Baik kegiatan formal, nonformal dan informal sehingga lambat laun atau dengan cepat akan berdampak besar bagi perubahan mindset kadar-kader ansor. Mimpi besarnya terbangunnya sebuah kultur-budaya berkesadaran ekonomi, syukur-syukur disusul dengan langkah-langkah kongkrit baik oleh kader ansor secara personal ataupun kemandirian ekonomi secara kelembagaan.
Dalam membangun mindset gerakan ekonomi secara kelembagaan Ketum PP Ansor Sahabat H. Adien Jauharudin, Ketua PW Ansor Jawa Timur H. Musaffa Safril dan Ketua PC GP Ansor Sumenep bisa dibilang berhasil. Hal ini bisa dilihat dengan tumbuh subur dan tumbuh kembangnya gerakan-gerakan ekonomi ditingkat PP-PW-PC hingga lapisan terbawah sampai tingkatan Ranting. Di PP kita tahu ada Ansor Stokis, di PW kita kenal ada Ansor Logistic Hub yang bekerjasama dengan PT KAI, di PC Ada banyak tumbuh subur badan usaha-badan usaha milik Ansor. Bahkan sampai tingkatan PAC dan ranting dengan unit-unit usahanya yang beragam pula.
Tumbuh suburnya unit-unit usaha secara kelembagaan jelas bukan hadir secara tiba-tiba, tentu ini sebuah hasil proses suksesnya ideologisasi-indoktrinasi gerakan ekonomi yang terus konsisten digaungkan oleh jejang pengurus di atasnya yang disambut positif oleh jenjang pengurus di bawahnya.
Dari beberapa Kabupaten di Madura misalnya, PC Ansor Bangkalan sukses melakukan pengelolaan lahan pertanian disulap jadi lahan melon. Di PC Ansor sumenep, PAC Batuan mampu menyulap lahan persawahan jadi lahan sayur-sayuran, ranting bukabu dengan usaha beras hasil pertanian.
Hal ini tentu baru sebagian kecil yang penulis sebutkan, belum lagi jika berbicara unit-unit usaha Ansor se-Indonesia tentunya banyak usaha dan unit-unit usahanya yang beragam pula. Mulai pertanian, perkebunan dan beragam usaha-usaha lainnya yang bisa menopang kemandirian ekonomi organisasi, belum lagi jika berbicara unit-unit kader Ansor secara personal. Dengan begitu, penulis yakin dan optimis kade-kader Ansor di masa mendatang akan mampu menghasilkan dan merebut kepemimpinan ekonomi untuk kebangkitan bangsa, negara dan agama. Baik itu dalam skala lokal, regional dan nasional.
Meski begitu, sebagai kader-kader Ansor janganlah pernah jumawa, beberapa gerakan ekonomi yang telah ditorehkan perlu terus konsisten dilakukan, itu kuncinya. Dan perlu terus diperluas pada wilayah unit-unit usaha yang lain.
Kedua, tumbuh suburnya gerakan ekonomi baik secara kelembagaan maupun secara personal perlu terus disambut postif tentunya dengan terus membangun kompetisi positif sehat produktif antar PAC-Antar ranting. Budaya kompetisi ini penting sebagai media memompa semangat para pengurus di masing-masing tingkatkan, maka berlomba-lombalah dalam kebaikan. Yakin jika hal ini bisa terus konsisten dilakukan maka akan makin banyak tumbuh subur budaya wirausaha baik secara kelembagaan ataupun kade-kader Ansor secara personal. Karena sukses usaha secara kelembagaan juga akan berpengaruh terhadap mindset personal masing-masing kade-kader ansor serta akan jadi inspirasi tersendiri bagi mereka.
Ketiga, Disamping ada kompetisi perlu dibangun sinergi antar PW, antar PC, antar PAC dan antar ranting. Mengapa, usaha masing-masing ranting tentu bisa jadi berbeda atau bisa jadi sama, maka dari bersamaan ataupun perbedaan usaha-usaha dimasing-masing PW-PC-PAC dan ranting ini adalah sebuah kekuatan dan peluang besar. Agar ada silangisasi (istilah penulis) prodak, atau kerja sama, sama-sama membantu menjualkan-memasarkan produknya. Sehingga pada akhirnya akan saling menguatkan dan menguntungkan semua usaha-usaha dimasing-masing PW-PC-PAC dan ranting.
Hal Ini butuh kerjasama yang baik agar prodak-prodak atau usaha yang dijalankan Ansor atau bahkan kade-kader Ansor tidaklah kesulitan pasar. Ansor secara kelembagaan kade-kader Ansor sudah bisa jadi pasar bagi usaha-usaha yang dijalankan oleh Ansor, belum lagi masyarakat secara luas.
Hanya dibutuhkan kemauan, kesungguhan, kebersamaan dan profesionalitas. Jika hal ini bisa dilakukan dengan baik maka penulis optimis kita akan Sama-sama besar, akan sama-sama untung dan sama-sama sukses.
Keempat, guna menopang beberapa hal di atas kiranya diperlukan ada event Ansor Awards serta bazar ekonomi. Hal ini guna memberikan apresiasi serta membangun kompetisi antar PW-PC-PAC dan antar Ranting. Apresiasi itu bisa berupa penghargaan hadia bagi PW-PC-PAC dan ranting yang berprestasi, maju tumbuh subur usaha ekonominya. Serta bazar ekonomi guna memberi saluran bagi semua jenjang kepengurusan menyalurkan kreatifitas hasil usahanya.
Di akhir catatan, Ansor sebagai organisasi kepemudaan tentunya sudah betul mengambil peran juga Dan peran penting di dunia ekonomi karena jika para pemuda Ansor memiliki kecakapan dan kemandirian ekonomi jelas akan berkontribusi besar terhadap arah pembangunan bangsa karena jelas kader-kader Ansor tersebar luas mulai dari perkotaan hingga ke pelosok pedesaan.
Terimakasih. Semoga oret-oretan ini bermanfaat bagi penulis khususnya. Dan harapannya dunia wirausaha, dunia ekonomi dan kemandirian ekonomi menjadi budaya bagi semua kadar-kader ansor. Semoga kita kaya raya sukses Dunia-akhirat. Amien...
*Penulis adalah pemerhati sosial dan sekretaris PC GP ANSOR Sumenep masa khidmat 2024-2028. Yang menyukai dunia pertanian, peternakan dan gerakan pemberdayaan.
Komentar